Identitas buku

  • Judul buku — Jalan Lain: Antologi Naskah Teater Jawa Tengah
  • Penulis — Bondan D.C., Dulrokhim, Idham Ardi N dkk.
  • Penerbit — Iniibubudi
  • Cetakan — Pertama, Mei 2026
  • Tebal buku — xvi + 261 halaman
  • Ukuran buku — 14 x 21 cm
  • ISBN — 978-634-96531-2-1

DI TENGAH minimnya penerbitan naskah teater daerah yang dikurasi secara serius, kehadiran Jalan Lain - Antologi Naskah Teater Jawa Tengah yang diterbitkan Iniibubudi, Mei 2026 menjadi peristiwa penting. Buku ini menghimpun sepuluh naskah terpilih dari lima puluh tiga kiriman penulis teater dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kurasi dilakukan dua tahap oleh tiga kurator: Asa Jatmiko, Hanindawan, dan Luna Kharisma. Hasilnya adalah kumpulan naskah yang bukan hanya menarik dibaca, tetapi juga menyimpan kemungkinan pemanggungan yang kuat.

Buku ini memperlihatkan bagaimana teater Jawa Tengah hari ini bergerak di antara persoalan identitas, trauma sosial, lingkungan, relasi keluarga, birokrasi, hingga krisis kemanusiaan modern. Yang menarik, tema-tema itu tidak hadir sebagai gagasan abstrak, melainkan tumbuh dari lanskap sosial yang konkret: lereng Gunung Muria, ruang keluarga kelas menengah, desa yang terdesak korporasi, sampai ruang kereta yang simbolik. Dalam konteks antropologi sastra, antologi ini penting karena memperlihatkan bagaimana teks dramatik bekerja sebagai rekaman kebudayaan. Naskah-naskah di dalamnya tidak hanya memotret konflik individu, tetapi juga merekam cara masyarakat Jawa Tengah memahami relasi kuasa, tradisi, ingatan kolektif, dan perubahan sosial.

Salah satu naskah yang menonjol ialah Akar Muria karya Bondan D.C. Naskah ini berbicara tentang identitas masyarakat lereng Muria dan ancaman terhadap akar hidup mereka. Kalimat pada halaman 18–19 menjadi inti gagasan naskah:

"Di lereng Gunung Muria, nama bukan sekadar bunyi atau hanya tulisan. Nama adalah akar yang tumbuh dari tanah, dari keringat, dari doa, dan dari hidup orang-orang kecil yang jarang didengar suaranya."

Kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana identitas dipahami secara komunal dan agraris. Nama tidak sekadar penanda administratif, tetapi bagian dari hubungan manusia dengan tanah, sejarah, dan ingatan sosial. Dalam perspektif antropologi sastra, Akar Muria menghadirkan masyarakat Muria sebagai subjek budaya yang sedang mempertahankan ruang hidupnya dari tekanan modernitas dan kuasa ekonomi.

Tema serupa muncul dalam Maling karya Dulrokhim. Naskah ini bergerak di wilayah kritik birokrasi dan korporasi. Adegan pembacaan somasi terhadap Kopi Muria pada sekitar halaman 31–33 menjadi salah satu bagian paling teatrikal sekaligus politis dalam buku ini. Konflik antara warga dan perusahaan tidak hanya tampil sebagai pertentangan hukum, tetapi juga perebutan makna atas tanah, hasil bumi, dan hak hidup masyarakat kecil. Kekuatan naskah ini terletak pada keberhasilannya menjadikan persoalan administratif terasa hidup di panggung.

Sementara itu, Bunyi karya Moh. Henri Prasetiyo menghadirkan pertanyaan filosofis tentang identitas manusia. Pada bagian sinopsis di halaman 129 muncul pertanyaan:

"apakah yang membuat manusia bernilai? namanya, perannya, atau keberaniannya keluar dari cerita yang disepakati bersama?"

Pertanyaan ini menunjukkan bagaimana manusia modern sering terjebak dalam identitas sosial yang dibentuk masyarakat. Naskah tersebut menjadi refleksi mengenai individu yang berusaha keluar dari narasi kolektif yang mengekang. Dalam pembacaan antropologi sastra, konflik itu memperlihatkan benturan antara identitas personal dan identitas sosial yang diwariskan komunitas.

Nuansa puitik terasa kuat dalam Menemuimu Kembali dalam Babak yang Menjemukan karya Udiarti. Pertemuan Prono dan Kelana di ruang kereta menghadirkan percakapan yang sederhana namun emosional. Salah satu dialog paling kuat muncul pada halaman sekitar 246–261:

"Tak ada satu pun manusia yang boleh membuat standar soal kebahagiaanku."

Kalimat itu menjadi bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang sering menentukan hidup seseorang. Ruang kereta di sini terasa simbolik: tempat transit, keterasingan, sekaligus ruang perjumpaan manusia yang sedang mencari dirinya sendiri.

Selain kekuatan tema, antologi ini juga menarik dari segi bentuk dramatik. Beberapa naskah memanfaatkan koor, monolog intens, permainan bunyi, dan ritme dialog sebagai kekuatan utama panggung. Pilihan-pilihan teknis tersebut menunjukkan bahwa para penulis tidak hanya berpikir secara literer, tetapi juga memikirkan tubuh aktor, suara, dan kemungkinan visual di atas pentas. Karena itu, buku ini relevan bukan hanya untuk pembaca sastra, tetapi juga kelompok teater yang sedang mencari naskah pertunjukan.

Meski demikian, buku ini masih menyimpan sejumlah kelemahan. Persoalan paling tampak adalah redaksi dan tata ketik yang kurang rapi. Terdapat cukup banyak kata menempel dan pemenggalan tidak konsisten, seperti "adegankonflik" (hal. 12), "kabaramplopan" (hal. 20), "taklanjutkan" (hal. 21), dan beberapa bentuk lain yang mengganggu kelancaran baca. Pada bagian tertentu ditemukan pula penggunaan kata yang tampak tidak standar atau kurang konsisten, seperti "materainya" pada halaman 67. Dari pembacaan sampel teks, setidaknya terdapat sekitar tiga puluh enam titik kesalahan ketik dan penggabungan kata yang tersebar di banyak halaman, terutama pada bagian halaman 20–25, 49–56, 63–71, dan 245–261.

Selain masalah teknis, beberapa naskah juga terasa belum sepenuhnya matang secara dramaturgis. Dalam Dinding-Dinding Mawar Hitam karya Siwi Agustina (halaman 205–221), konflik rumah tangga Asdhan dan Bella dibangun lewat dialog panjang yang sering terasa seperti debat berulang. Tema tentang relasi kuasa domestik, trauma keluarga, dan stigma perceraian sebenarnya menarik, tetapi beberapa bagian terlalu menjelaskan gagasan secara langsung sehingga tensi dramatiknya melemah. Pergantian konflik juga terasa cepat dan bertumpuk, membuat perkembangan emosi tokoh kurang utuh.

Hal serupa tampak dalam Tahun-Tahun Setelah Itu karya Idham Ardi N. (halaman 63–82). Naskah ini mengangkat trauma sosial pasca-peristiwa viral yang menimpa keluarga Kenes. Gagasannya relevan dengan masyarakat digital hari ini, terutama mengenai stigma dan identitas sosial setelah sebuah peristiwa publik. Namun konflik lebih banyak hadir sebagai percakapan reflektif dibanding aksi panggung yang berkembang tajam. Akibatnya, ritme dramatiknya terasa tenang dan kurang memiliki ledakan emosional yang kuat.

Meski memiliki sejumlah kekurangan editorial dan dramaturgis, Jalan Lain tetap penting sebagai dokumentasi perkembangan teater Jawa Tengah mutakhir. Buku ini memperlihatkan bahwa teater daerah tidak kehilangan daya kritisnya. Sebaliknya, ia justru tumbuh dari persoalan-persoalan paling dekat dengan masyarakat: tanah, keluarga, birokrasi, trauma, dan identitas. Dalam sudut pandang antropologi sastra, antologi ini menjadi semacam arsip kebudayaan yang merekam kecemasan sosial masyarakat Jawa Tengah hari ini melalui bahasa panggung.

Pada akhirnya, Jalan Lain bukan sekadar kumpulan naskah teater, melainkan peta kecil tentang manusia Jawa Tengah kontemporer: masyarakat yang hidup di antara tradisi dan perubahan, antara ingatan kolektif dan tekanan modernitas, serta antara keinginan mempertahankan akar dan kebutuhan mencari jalan lain. Semoga. (*)