Pada periode 1950–1965, Pramoedya Ananta Toer tidak hanya menulis karya sastra yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Indonesia pasca-kolonial, tetapi juga aktif dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), menjadikan seni sebagai alat perjuangan untuk keadilan sosial.

Pandangan dan keterlibatannya yang memadukan budaya dan politik membuatnya menghadapi konsekuensi berat pasca-1965, termasuk pengasingan di Pulau Buru. Meski demikian, ia tetap produktif dan menghasilkan karya monumental seperti Bumi Manusia, yang menjadi simbol kekuatan kata-kata dalam menghadapi kekuasaan dan membawa suara kaum tertindas.

Mari bergabung dalam bedah buku Pramoedya A. Toer: Dari Budaya ke Politik 1950–1965 bersama Muhamad Fatkhul Huda, aktivis sosial dan jurnalis.

Rabu, 22 Januari 2025 · Pukul 19.30 WIB – selesai
Depan rumah Mas Aan, Perum Muria Indah, Kudus