Aku tidak bisa menjelaskan dengan logis kenapa lebih suka toko buku bekas daripada toko buku baru. Mungkin karena di rak buku bekas, setiap jilid sudah hidup.
Tanda-tanda kecil
Buku bekas datang bersama sejarahnya. Ada yang halamannya digaris dengan pensil — seperti pembaca sebelumnya sedang mengajakmu menunjuk sebuah kalimat: "Lihat, yang ini bagus."
Ada yang punya stempel pustaka jaman itu, dengan nama lengkap dan alamat yang sekarang mungkin sudah jadi minimarket. Ada yang terlipat di halaman 27 menandakan cerita itu sempat menggantung selama beberapa hari di hidup orang lain.
Semua itu tidak ditemukan di buku baru.
Bekas bukan berarti kurang
Orang sering mengira buku bekas = rusak, murahan, atau ketinggalan zaman.
Justru sebaliknya. Buku bekas adalah sirkulasi bacaan yang sehat: satu cerita mengembara dari tangan ke tangan, dari kamar ke kamar, dari generasi ke generasi. Sampul yang mulai lusuh bukan cacat — itu bukti bahwa buku itu pernah dipegang dengan penuh rasa.
Buku baru adalah jendela. Buku bekas adalah jendela yang pernah dibuka orang lain — kamu bisa melihat ke luar, sambil membayangkan siapa saja yang pernah menatapnya.
Esok yang terus dibaca
Lima dari sepuluh buku di rakku kini bekas. Usia tidak membuat isinya basi. Isi tidak berubah hanya karena sampulnya dipunya orang lain lebih dulu.
Kalau kamu belum pernah mencoba, mulailah dari satu. Buka toko buku bekas kecil di pojok pasar. Bau kertas tuanya, halaman yang mulai kuning, dan coretan tak dikenal di pinggir halaman.
Kamu mungkin tidak akan kembali ke toko buku baru lagi.
