Gaya hidup hijau hari ini semakin sering diposisikan sebagai tanggung jawab personal. Mengurangi penggunaan sedotan plastik, membawa tumbler, menggunakan tote bag, hingga berbelanja tanpa kantong plastik dianggap sebagai bentuk utama kepedulian terhadap lingkungan.

Persoalannya, apakah kerusakan lingkungan memang terutama disebabkan oleh perilaku individu?

Dalam konteks pemanasan global, persoalan lingkungan sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar pilihan seseorang menggunakan sedotan plastik atau tidak. Ada persoalan struktural yang berkaitan dengan sistem produksi, konsumsi, industri, energi, eksploitasi sumber daya alam, hingga ketimpangan tanggung jawab global.

Negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar dan sejarah industrialisasi panjang memiliki kontribusi emisi yang sangat besar. Karena itu, ketika persoalan lingkungan dibebankan terutama kepada individu, terdapat risiko pengalihan perhatian dari aktor-aktor struktural yang memiliki kemampuan jauh lebih besar untuk mengubah sistem.

Kapitalisme sangat halus dalam memindahkan tanggung jawab tersebut. Kesadaran lingkungan dikemas menjadi pilihan konsumsi. Masyarakat ditawarkan produk yang disebut ramah lingkungan: sedotan stainless steel, tumbler, tote bag, kendaraan listrik, dan berbagai produk hijau lainnya. Seolah-olah penyelamatan bumi dapat dilakukan dengan membeli produk yang tepat.

Di sinilah kritik terhadap kapitalisme hijau menjadi penting. Lingkungan tidak lagi sekadar menjadi persoalan ekologis, tetapi juga menjadi pasar baru. Kesadaran ekologis mengalami komodifikasi. Kita didorong menjadi konsumen yang merasa sedang menyelamatkan lingkungan melalui pilihan-pilihan konsumsi tertentu.

Bukan berarti penggunaan tumbler, mengurangi plastik, memilah sampah, atau berbagai gerakan konservasi tidak penting. Semua itu tetap memiliki nilai. Namun, tindakan personal tersebut seharusnya ditempatkan sebagai tanggung jawab sekunder, bukan menggantikan tanggung jawab struktural.

Sebab, persoalannya adalah skala. Berapa juta orang harus mengubah perilakunya untuk mengimbangi kerusakan yang dihasilkan oleh industri dalam skala besar? Dan bagaimana jika setelah masyarakat memilah sampah di rumah, sampah tersebut kembali dicampur ketika sampai di tempat pembuangan akhir?

Situasi semacam ini menunjukkan adanya kekecewaan terhadap negara dan sistem pengelolaan lingkungan. Masyarakat diminta bertanggung jawab terhadap sampah rumah tangga, tetapi sistem yang lebih besar belum tentu memberikan kepastian bahwa upaya tersebut benar-benar berlanjut secara ekologis.

Persoalan gender juga perlu dilihat. Dalam praktik sehari-hari, urusan rumah tangga dan pengelolaan sampah sering kali dibebankan kepada ibu rumah tangga. Tanggung jawab ekologis kemudian menjadi beban tambahan di tingkat domestik, sementara persoalan produksi dan konsumsi dalam skala industri berada di luar jangkauan individu.

Kritik ini bukan bermaksud merendahkan para pegiat konservasi maupun orang-orang yang menjalankan gaya hidup hijau. Justru gerakan tersebut penting. Yang perlu dikritisi adalah ketika gerakan personal itu berubah menjadi moralitas untuk menghakimi orang lain.

Jangan sampai seseorang yang menggunakan motor listrik, membawa tumbler, dan tidak menggunakan sedotan plastik merasa lebih bermoral daripada orang yang masih menggunakan sepeda motor konvensional. Apalagi kendaraan listrik pun tidak otomatis bebas dari persoalan ekologis. Jika energi yang digunakan untuk mengisi baterainya masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil seperti batu bara, persoalan emisinya belum selesai. Hanya terjadi perubahan bentuk dalam rantai energi.

Karena itu, jangan sampai gaya hidup hijau menciptakan hierarki moral baru: orang yang menggunakan produk ramah lingkungan dianggap lebih sadar, sedangkan mereka yang tidak mampu atau tidak memilihnya dianggap tidak peduli lingkungan.

Padahal, tidak semua orang memiliki kapasitas ekonomi yang sama untuk membeli produk-produk yang diberi label ramah lingkungan. Dalam kondisi tertentu, gaya hidup hijau justru dapat menjadi gaya hidup kelas menengah yang tidak sepenuhnya dapat diterapkan oleh seluruh masyarakat.

Lebih jauh, persoalan ekologis juga berhubungan dengan cara manusia memandang alam. Kerusakan lingkungan tidak hanya lahir dari pilihan individu, tetapi dari cara manusia mengorganisasi produksi, mengejar pertumbuhan, mengeksploitasi sumber daya, dan menempatkan alam sebagai objek yang terus-menerus dapat dikonsumsi.

Karena itu, kita perlu melihat persoalan emisi karbon, deforestasi, eksploitasi sumber daya alam, dan pertumbuhan konsumsi secara struktural. Manusia memang menghasilkan limbah dan memiliki jejak ekologis. Namun, kemampuan untuk memperbesar atau memperkecil dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi dan politik yang mengatur produksi.

Buku Kapitalisme Hijau: Fetisisasi Gaya Hidup Hijau dalam Masyarakat Neoliberal karya Nurani Sitanggang mengingatkan kita agar tidak terjebak pada penyederhanaan persoalan lingkungan. Gerakan ekologis boleh dimulai dari diri sendiri, tetapi jangan berhenti pada diri sendiri.

Kita boleh membawa tumbler. Kita boleh mengurangi plastik. Namun, pada saat yang sama, kita tetap harus bertanya: siapa yang menghasilkan emisi paling besar? Siapa yang memiliki kekuasaan untuk mengubah sistem produksi? Siapa yang memperoleh keuntungan dari eksploitasi alam? Dan mengapa tanggung jawab atas kerusakan ekologis justru semakin banyak dibebankan kepada individu?

Isu lingkungan pada akhirnya bukan sekadar soal bagaimana seseorang membuang sampah atau memilih kantong belanja. Ia adalah persoalan politik, ekonomi, produksi, kekuasaan, dan keadilan ekologis.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menyalahkan orang yang masih menggunakan plastik, sementara persoalan mendasar kerusakan lingkungan tidak pernah disentuh.

Gaya hidup hijau boleh dilakukan. Tetapi jangan biarkan ia menjadi gimmick yang membuat kita lupa pada akar persoalan.

Lingkungan adalah tanggung jawab bersama, tetapi tanggung jawab tidak selalu berarti sama besar. Mereka yang memiliki kuasa lebih besar dalam menghasilkan kerusakan ekologis semestinya memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar pula.