Bercelah dari kebiasaan: selama tujuh tahun aku membuka aplikasi berita begitu bangun tidur. Bukan satu, tapi tiga. Sebelum mandi, diselingi ketika menunggu kopi, dan ditutup sebelum tidur. Rasanya seperti kewajiban sipil.

Lalu enam bulan lalu aku berhenti.

Bukan karena benci berita

Aku tetap butuh tahu apa yang terjadi. Bedanya, sekarang aku memilih sendiri kapan, dari mana, dan seberapa dalam. Tidak ada lagi notifikasi yang meledak di pojok layar.

Yang terjadi cukup mengejutkan: tidak ada satu hal pun yang berubah. Dunia tetap berjalan. Harga tetap berfluktuasi. Tetangga tetap berisik pada malam Minggu. Tapi kepala aku jadi jauh lebih tenang.

Ruang yang tadinya penuh

Media mengajarkan kita bahwa setiap menit wajib diisi informasi. Padahal sebagian besar dari itu bukan informasi — itu bisnis emosi. Ketakutan, amarah, dan rasa tidak aman dijual dalam satuan "breaking news".

Saat ruang itu dikosongkan, isinya perlahan diganti hal-hal yang bisa kupegang:

  • Satu buku fisik yang rampung dalam sebulan, bukan 300 judul di daftar baca.
  • Percakapan utuh dengan orang terdekat, tanpa mata melirik layar.
  • Ide yang sempat mati karena tidak ada waktu untuk berpikir.

Tidur lebih nyenyak, kepala lebih jernih

Ini klaim yang kedengarannya klise sampai aku mengalaminya sendiri. Lagi, bukan karena beritanya hilang. Tapi karena aku tidak lagi membawa semua amarah orang lain ke peraduan.

Berita bukan musuh. Yang menjadi musuh adalah kebiasaan tanpa pilih.

Kalau mau mulai, mulai kecil

Tidak perlu drastis. Tiga langkah yang kulakukan:

  1. Hapus satu aplikasi berita yang paling sering menyedot perhatian.
  2. Atur jam bicara: informasi hanya pagi satu kali, sore sekali.
  3. Bertanya sebelum scroll: "Apakah ini penting untuk hidupku sekarang?"

Jika jawabannya tidak, tutup. Maossae akan selalu menunggu.