Kudus meraih skor sementara 96,25 dalam penilaian TPBIS dan bertengger di posisi teratas Jawa Tengah. Selamat! Perpustakaan kita hampir sesempurna nilai rapor anak teladan. Angkanya bahkan mengungguli Blora yang mendapat 96 dan Demak dengan 93. Tinggal satu pertanyaan kecil: kalau nilai perpustakaannya hampir 100, apakah orang-orang juga sudah berbondong-bondong datang untuk membaca buku, atau masih perlu dipancing lewat grup WhatsApp supaya bersedia mengisi survei? Jangan-jangan, yang paling rajin berkunjung justru tautan formulirnya.
Tentu, skor KPI bukan tanpa arti. Ada pelatihan, komunitas, dan kegiatan pemberdayaan yang patut diapresiasi. Namun, kalau perpustakaan ingin menjadi pusat pembelajaran masyarakat, jangan sampai kita lebih sibuk menghitung kegiatan daripada menghitung berapa orang yang benar-benar terbantu. Sebab, angka 96,25 bisa membuat pejabat tersenyum, tetapi belum tentu membuat warga rindu datang. Jangan sampai perpustakaan mendapat nilai A, sementara kebiasaan membaca masyarakat masih menunggu remedial.
